Merujuk kepada tema taujiah : menghidupkan hati dengan iman, maka ada 2 kosa kata yang perlu dibahas, yaitu :
- Al Qolb. Asal katanya adalah Qolaba, yang artinya suatu kondisi atau benda yang tidak stabil atau mudah dibolak-balik. Dapat ditarik pengertian umum bahwa hati adalah bagian kehidupan manusia yang labil, yang mudah sekali berubah. Rasulullah bersabda dalam Hadist Bukhari dan Muslim yang isinya : “Di dalam manusia itu ada segumpal daging yang jika itu baik, maka baiklah perbuatannya dan jika itu buruk, maka buruk juga perbuatannya. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati.” Hal tersebut menggambarkan bahwa hati memiliki posisi yang tinggi bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai penentu sikap seseorang, baik atau buruknya sikap seseorang yang tergambar dari niat, berpikir dan berbuat baik, lisan serta tingkah laku. Hati yang terisi oleh rasa dendam, akan terlihat dari sikapnya.
- Al Iman. Yaitu sesuatu yang diucapkan dengan lisan, diyakini dengan hati dan dilakukan dengan perbuatan.
Ada beberapa cara untuk menghidupkan hati dengan iman, salah satu diantaranya adalah menghidupkan majlis-majlis ilmu yang berkaitan dengan keimanan dan senantiasa hadir dalam majlis-majlis tersebut. Kita harus menjadikan majlis-majlis ilmu ini sebagai pembekalan bagi diri kita, sehingga kita paham mana yang benar dan mana yang salah dalam Islam.
Selain sebagai pembentukan, majlis-majlis ilmu inipun berfungsi me-review diri kita, apakah yang kita lakukan selama ini adalah perbuatan yang diridhoi Allah SWT.
Fungsi lainnya lagi adalah membuat kita menjadi muslim yang selalu melakukan perbaikan, sehingga semakin hari semakin lebih baik.
Setelah kita fahami fungsi-fungsi tersebut dan tatkala kita mampu melakukannya, maka Allah SWT akan memberikan hidayah dan tauhid kepada kita. Setelah kita dapat melakukan fungsi-fungsi tersebut, maka barulah kita bertanya siapakah diri kita. Kalau kita bicara tentang diri kita, maka ada element-element yang harus kita fahami dan harus kita kenal dengan sebenar-benarnya. Element-element tersebut antara lain :
Mengenal hakikat jiwa. Kalau bicara tentang hakikat jiwa, maka kita akan mengenal nafsu. Nafsu itu terbagi sebagai berikut :
- Nafsu amarah ialah nafsu/jiwa yang mendorong kearah maksiat.
- Nafsu lawamah ialah yang menghadirkan perasaan selalu kurang dan tidak optimal.
- Nafsu mutmainah ialah jiwa yang tenang/suci. Nafsu yang bisa membuat kita merasa tenang dan bahagia.
Mengenal hakikat dari hati.
Imam Al Qazali mengatakan bahwa hati itu ibarat kaca jendela dan dosa-dosa diibaratkan sebagai debu yang menempel di kaca tersebut, kemudian kebaikan diibaratkan sebagai sinar yang menyelimuti jendela kaca itu. Dari analogi tersebut, maka kita bisa menyimpulkan apalah gunanya rumah besar/mewah, apabila jendelanya tidak pernah dibersihkan, sehingga sinar mentari tidak pernah bisa masuk ke rumah tersebut (dalam hal ini Islam/kebenaran) yang harusnya menyinari seisi rumah. Bila hal ini berlangsung terus menerus, maka rumah tersebut akan dipenuhi bibit penyakit. Dengan shalat, membaca Al Qur’an dan amal-amal kebaikanlah yang mampu membersihkan hati kita.Islam membagi hati menjadi 3 bagian, ialah :
- Hati yang selamat, adalah hati yang dipenuhi aktivitas yang selalu mengungat Allah SWT. Rasulullah berkata dalam hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Al Abani : “Kebaikan adalah sesuatu yang membalut jiwamu, tenang dan hatimu tentram. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan gundah dalam dada, meskipun telah berulang kali manusia memberikan fatwa kepadamu.”
- Hati yang berpenyakit, adalah hati yang dipenuhi penyimpangan/ maksiat, baik secara lisan maupun perbuatan.
- Hati yang terkunci dari kebenaran, adalah hati yang dimiliki oleh orang-orang kafir. Hati mereka telah membatu, karena mereka selalu menolak kebenaran.
Mengenal hakekat dari kehidupan ini
Jin dan malaikat diciptakan untuk beribadah, sedangkan manusia sebagao khalifah (hamba Allah SWT) di muka bumi ini. Maka kita tidak boleh berubah menjadi orang yang sombong, yaitu berubah fungsi menjadi majikan/tuhan. Kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan, sehingga kita tidak terbuai oleh kenikmatan di dunia ini.
Melakukan perenungan rohaniah
Ada kisah menarik : Imam Hasan Al Basri bersama dengan seorang anak muda yang shaleh mendatangi seorang tabib, kemudian si anak muda meminta kepada si tabib tersebut, agar memberikan suatu cara untuk mengobati penyakit hati. Tabib ini adalah tabib yang shaleh dan beliau menyuruh anak muda tersebut melakukan 10 hal, yaitu :
- Ambil akar pohon kekafiran dengan kerendahan hati. Artinya Allah SWT menjamin semua rizki di muka bumi ini, jangan sampai apa yang telah Allah berikan menjadikan kita sombong.
- Taruh dalam keranjang tobat. Artinya agenda kebaikan banyak yang tidak terealisir, tapi dosa yang walaupun tidak direncanakan, malah sering terjadi.
- Tumbuklah dengan lesung keridhoan. Artinya jadikan semua aktifitas ini merujuk kepada Allah SWT.
- Haluskan dengan kepuasan hati. Artinya ridho atas apa yang telah Allah takdirkan kepadanya.
- Masukan dalam kendil ketaqwa’an. Artinya semuanya harus mengarah kepada ketaqwa’an.
- Campurkan dengan air malu. Artinya malu adalah bagian dari keimanan, kita harus malu kepada Allah bila memiliki niat maksiat.
- Didihkan dengan api kecintaan kepada Allah SWT. Artinya kita beramal karena cinta kepada Allah, sehingga kita selalu melakukan yang terbaik untuk yang kita cintai.
- Tuangkan dalam bejana syukur. Artinya selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah SWT kepada kita.
- Dinginkan dengan air harapan. Artinya agar semua aktifitas kita diterima oleh Allah SWT, maka kita harus selalu penuh dengan harapan/keyakinan.
- Minumlah dengan sendok hamdallah. Artinya jadika semua aktifitas kita berujung kepada keridhoan Allah SWT dan memohon rizki dari Allah SWT.
Selanjutnya...
SalaMAA @
12:40 AM

Anak Qurrota A’yun : Antar Cita dan Fakta
“Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. al-Furqan: 74)
Merupakan sebuah kebahagiaan agung yang merekahkan hati setiap orang tua, apabila ia dikaruniai seorang anak yang shalih dan shalihah. Inilah salah satu pilar terpenting bagi terwujudnya keluarga sakinah, sebuah keluarga bahagia yang meneduhkan hati penghuninya. Anak yang shalih dan shalihah dalam bahasa al-Qur’an dilukiskan sebagai qurrota a’yun, penyejuk mata dan penyenang hati bagi kedua orang tuanya.
Akan tetapi anak yang qurrota a’yun ini sering hanya menjadi cita-cita belaka, karena dalam kenyataannya sangat banyak kita jumpai anak-anak yang tidak biasa berbakti bahkan cenderung durhaka dan suka menyusahkan hati kedua orang tuanya. Anak qurrota a’yun sering hanya tinggal menjadi cita yang lintas fakta.
Antara Cita dan Fakta
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa keturunan atau anak menjadi qurrota a’yun (penyenang hati) apabila ia tumbuh menjadi anak yang taat kepada Allah, tekun beribadah, menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhkan segala apa yang dilarang dan diharamkan-Nya (terjemahan singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid VI, hal. 36). Jadi hanya anak yang menjalankan ajaran agama dengan baik dan memiliki akhlaqul karimah yang dapat menjadi qurrota a’yun. Anak qurrota a’yun dikonstruksi oleh bangunan keagamaan yang baik, sehingga hanya dapat diwujudkan dengan jalan mendekatkan anak dengan agama atau dengan memberikan pendidikan agama yang baik kepada anak. Tanpa hal itu anak qurrota a’yun selamanya akan tetap menggantung dalam alam cita, dan tidak akan pernah membumi dalam alam fakta.
Yang menjadi masalah sekarang adalah banyak sekali kalangan orang tua yang --karena keterbatasan pengetahuan atau kesibukan mungkin-- tidak mampu memberikan pendidikan agama secara baik kepada anak dalam keluarga. Sedangkan di sekolah --terutama sekolah-sekolah umum-- jam pelajaran agama sangat minim sekali. Atau mungkin pelajaran agama telah banyak diberikan di sekolah-sekolah Islam, akan tetapi cara penyampaiannya sangatlah normatif (teoritis-formalitas), sehingga kurang mampu mewarnai kepribadian anak. Ditambah dengan lingkungan pergaulan yang tidak baik, acara-acara TV yang tidak mendidik, maka anak pun tumbuh dalam kondisi jauh dari ajaran agama. Sehingga ketika menginjak remaja atau dewasa, anak menjadi nakal, liar, terjebak dalam minuman keras, pergaulan bebas dengan lawan jenis, suka berkelahi dan lain sebagainya. Anak menjadi berani melawan orang tua, suka membantah, membentak, berkata kasar bahkan sampai memukul atau menganiaya kedua orang tuanya. Na’udzubillahi min dzalik. Orang tuapun sering hanya bisa ‘ngelus dhadha’ prihatin melihat ‘jantung hatinya’ tumbuh menjadi anak yang nakal dan durhaka kepada orang tuanya. Hatinya begitu teriris pilu meratapi runtuhnya “qurrota a’yun” dalam keluarga.
Penyebab Kerusakan Akhlak
Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam merinci beberapa faktor yang mendorong anak menjadi nakal dan berbuat negatif.
Pertama, disharmoni (keretakan) hubungan antara bapak dan ibu. Pertengkaran yang sering terjadi antara bapak dan ibu menyebabkan anak menjadi stress dan tidak betah tinggal di rumah, sehingga cenderung ingin mencari nuansa kesegaran di luar rumah. Jika di luar rumah ternyata ia mendapatkan lingkungan yang negatif, maka drama runtuhnya “qurrota a’yun” itu pun mulai memasuki babak permulaan.
Kedua, mandegnya dinamika anak. Masa anak-anak adalah masa bermain, bersendau gurau dan aktif bergerak. Orang tua dan pendidik harus memahami betul karakteristik kejiwaan anak ini, sehingga tidak menerapkan metoda pendidikan yang mengekang, membelenggu dan ‘meneror’ jiwa anak, yang menjadikan anak kehilangan keceriaan, merasa takut dan ‘tertindas’. Untuk itu usahakanlah rumah dan sekolah menjadi tempat yang menyenangkan dan menyegarkan bagi anak.
Ketiga, pergaulan negatif dengan kawan nakal. Nabi SAW bersabda:
“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kamu memperhatikan siapa temannya itu.” (HR. at-Tirmidzi)
Keempat, buruknya perlakukan orang tua terhadap anak. Jika anak sering diperlakukan dengan kejam, dididik dengan pukulan sadis, sering dibentak, dicemooh dan dihina, maka anak akan tumbuh besar dalam suasana yang timpang. Anak menjadi mincer, tidak memiliki rasa percaya diri, merasa dibenci orang lain dan cenderung berbuat negatif.
Kelima, film-film sadis dan porno. Film-film keras dan cabul sangat berpengaruh pada kejiwaan anak. Namun hal ini kurang disadari oleh para orang tua, sehingga anak terlalu dibebaskan menonton acara-acara TV tanpa seleksi.
Keenam, lengahnya orang tua terhadap pendidikan anak. Banyak orang tua yang acuh dan tidak terlalu peduli dengan pendidikan anaknya. Yang penting anak telah sekolah, sudah ngaji di TPA dan lain sebagainya. Dikiranya hal itu sudah cukup. Padahal pendidikan itu harus dilaksanakan secara intergral (menyeluruh). Antara rumah, sekolah dan masjid harus secara bersama-sama dan serius terpadu memberikan pendidikan yang baik kepada anak.
Strategi Asasi Pendidikan Anak
Abdullah Nashih Ulwan menyebutkan beberapa strategi atau kaidah asasi yang bisa ditempuh untuk mendidik anak secara baik, agar anak qurrota a’yun bisa terwujud.
Pertama, strategi ikatan. Yakni mengikat anak atau melekatkan anak dengan ritual-ritual keagamaan. Mengikat anak dengan amalan ibadah (sholat, puasa, sedekah dan lain-lain), melekatkan anak dengan masjid, al-Qur’an, dzikrullah, amalan-amalan sunat (puasa Senin Kamis, sholat dluha, shalat tahajjud dan lain-lain) merupakan langkah nyata untuk mewarnai kepribadian anak dengan warna agama. Hal ini bisa ditempuh dengan metoda pembiasaan serta keteladanan dari orang tua dan pendidik. Sehingga anak memiliki kecintaan kepada kema’rufan secara mendalam.
Kedua, strategi peringatan. Yakni menanamkan pengertian dan pemahaman terhadap ajaran agama secara terus menerus kepada anak, sehingga tumbuh pada diri anak kebencian terhadap kemaksiatan dan kejahatan. Misalnya peringatan dari kemurtadan, kekufuran, perjudian, minum-minuman keras, pornografi dan lain sebagainya. Menurut Nashih Ulwan, strategi peringatan merupakan faktor asasi yang dapat mencuci otak anak dari pikiran-pikiran kotor, paham-paham sesat dan batil. Lebih dari itu, kesadaran dan keimanannya dapat berfungsi sebagai benteng kokoh yang menolak segala pikiran sesat dan pengaruh orang-orang yang rusak.
Ketiga, strategi kerja sama. Yakni perlunya kerja sama yang harmonis antara rumah, sekolah dan masjid dalam melaksanakan pendidikan anak. Masjid perlu melakukan pembenahan prosesi pendidikan agama (ta’lim-ta’lim atau kajian keagamaan) di masjid dengan menejemen yang rapi dan terrencana. Anak pun perlu terus memotivasi untuk lekat dengan masjid. Masjid adalah rumah Allah yang di dalamnya bertaburan rahmat dan hidayah-Nya. Tidak mungkin anak qurrota a’yun terwujud jika anak (dan orang tua) lepas dari masjid. “Muslim Tanpa Masjid” memang merupakan fenomena umat kekinian yang sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin seorang muslim akan dekat dengan Allah jika ia tidak pernah ‘bersilaturrahmi’ ke rumah-Nya? Rajulun qalbuhu mu’allaqun bil-masaajid (seseorang yang hatinya terkait dengan masjid) --sebagaimana disebutk dalam sebuah hadits-- merupakan profil hamba Allah sejati, yang akan senantiasa mendapatkan curahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Dan anak qurrota a’yun adalah anak yang selalu lekat dengan masjid.
(disadur dari : Anak Cerdas Dunia Akhirat, Muhammad Albani)
Selanjutnya...
SalaMAA @
12:25 AM

Tepat Waktu di Belanda

Oleh : Baba Aslam
“Sorry hoor .. ik heb net de bus gemist,“ (Maap ya, soalnya saya barusan ketinggalan bis). “Excuus.. ik heb me verslapen.” (Maap, tidurku kebablasan.)
Itulah jurus yang kerap dilontarkan ketika orang terlambat datang ke pertemuan atau masuk kelas. Alasan itu biasanya diterima, dengan syarat enggak jadi hobby atau kebiasaan.
Buat kawan-kawan di Belanda ini mungkin menarik menengok bagaimana rata-rata orang Belanda melihat fenomena terlambat atau tepat waktu?
Kebanyakan orang Belanda sangat tepat waktu. Bahkan mereka tahu betul jam berapa “sekarang” ini. Biasanya mereka datang pada jam yang sudah disepakati, ke kantor, pertemuan atau janjian. Kalaupun mereka terlambat dan menggunakan jurus “kebablasan tidur tadi,” maka mukanya akan merah malu dan minta maafnya sampai berkali-kali. Dia akan berusaha keras untuk tidak mengulangi lagi.
Di Belanda ini seseorang yang doyan terlambat dipandang sebagai tidak bisa dipercaya dan tidak bisa diharapkan. Biasanya orang Belanda akan menghindar berbisnis dengan yang suka telaat. Pencari kerja yang datang terlambat ke interview, biasanya tidak akan dapat pekerjaan yang dilamarnya.
Kebanyakan orang Belanda lumayan tahu tentang orang-orang asing, terutama dari Indonesia sebagai, tidak selalu tepat waktu atau penyandang “Jam Karet.” Biasanya gelar itu disampaikan sambil bergurau, tapi sebenarnya si Belanda itu kesal banget sama yang suka telaat. “Saya sudah datang tepat waktu, si Fulan masih juga belum muncul,” begitu biasanya ungkapnya kalau Fulan belum muncul tanpa ada kabar SMS atau telepon.
"Kalau Anda ingin maju di Belanda ini, Anda harus tepat waktu!" Demikian seorang bijak pernah berceloteh. Sembari menambahkan tips-tips berikut ini:
Datanglah tepat waktu. Bagi orang Belanda, lebih baik Anda 10 menit datang kecepetan daripada 5 menit terlambat. Contohnya kalau jam kerja mulai pukul 8:00 pagi, maka Anda diharapkan muncul kurang lebih 10 menit sebelumnya. Kalau Anda datang jam 8 théng, maka itu digolongkan sudah terlambat! Sepuluh menit itu dipakai untuk buka jaket, nyeruput kopi dan lainnya.
Kalau Anda membuat janji dengan rekan Belanda, segera tuliskan di agenda. Karena ketika Anda mengatakan “YA” maka itu bagi si Belanda janji sudah dibuat. Maka berhati-hati dalam menjawab pertanyaan dengan kata “Ya”. Orang Belanda akan lebih menghargai Anda mengatakan “Nee” daripada “Ya” tapi setengah hati dan akhirnya tidak muncul.
Kalau toh Anda memang tidak bisa menepati janji, maka alangkah baiknya kalau Anda menelponnya segera. Rekan Belanda itu akan menghargai cancel, sedini mungkin. Karena dia mungkin ingin bikin janji lainnya.
Itu tadi tips-tips nya. Soal waktu memang belakangan ini serasa berjalan sangat cepat. Sebagai penghuni negara berkecepatan tinggi seperti di Belanda ini, kita kerap merasakan “dikejar-kejar” waktu. Sangat cepat hari beranjak malam, padahal masih banyak tugas yang harus dikerjakan. Saking menumpuknya kegiatan di rumah dari mencuci pakaian, masak sampai dengan membuat Blog atau mengupdate Multiply. Belum lagi dengan POL dijam-jam nidurin anak dan sekian banyak email yang masih terlantar tidak terbaca di inbox. Kita keteteran melawan waktu..
Sebagai umat muslim, seharusnya kita tidak perlu kedodoran dengan waktu. Karena kita dibekali peranti dasar. Dari kecil sudah mendapatkan pelatihan dalam menghargai waktu dan disiplin. Bangun pagi sholat Fajr sebelum berangkat ke sekolah. Siang hari pulang ke rumah tepat waktu untuk sholat Dhuhur. Sore hari Ashr, mandi dan sholat Magrib. Kemudian Isha menjelang istirahat malam.
Apalagi setelah beranjak dewasa mulai memahami arti surah al-Ashr yang diawali dengan “Demi masa... “ dst. Lengkap sudah bekal kita sebagai umat islam untuk bisa menghargai waktu. Kalau berdate dengan Allah sudah lancar maka janji dengan sesama manusia pun semustinya tidak masalah. Sudah selumrahnya kita umat islam ini bisa menandingi orang-orang Belanda dalam menghargai dan tepat waktu. Semoga tulisan ini belum basi dan terlambat!
Selanjutnya...
SalaMAA @
12:15 AM

Gulai Cumi Padang

Oleh : Rini Duniarni - Driebergen
Siapa sich yang tidak kenal Mbak Rini yang rajin banget di dapur? Lihat aja multiply-nya yang selalu penuh dengan resep masakan, wah...membuat air liur menetes nich. Kali ini Mbak Rini bagi-bagi resep gulai cumi Padangnya buat Salamaa, katanya sich ini resep rahasia bundo kanduangnya.
Bahan :
1 kg cumi sedang
5 cm lengkuas
½ cm jahe
6 cabe besar
1 bw merah besar
1 siung bw putih
½ kaleng santen
garam secukupnya
Cara :
Sebua bahan tadi di blender kecuali cumi.Setelah halus masukan kedalam panci, tambahakan air ½ liter, masukan juga cumi yg telah dibersihkan.
Masak sampai matang dan siap dihidangkan.
Selanjutnya...
SalaMAA @
12:04 AM
